Sejak pertama kali kita menggunakan komputer, pasti kita juga sering mengcopy atau menghapus sebuah file. Yang dalam bentuk lain mengcopy atau menghapus file tanpa kita sadari ialah ketika kita menginstall atau menguninstall sebuah software. Namun, ketika menghapus atau mengcopy file tersebut, pernahkah anda mengamati waktu yang dibutuhkan pada saat mengcopy atau menghapus?
Waktu yang dibutuhkan ketika menghapus atau mengcopy sebuah file yang ukurannya kecil, tentu saja tidak begitu terasa perbedaannya, namun waktu yang dibutuhkan untuk menghapus atau mengcopy akan terasa bedanya ketika file tersebut berukuran besar. Ketika mengcopy file yang berukuran besar, terasa lama sekali, namun sebaliknya begitu kita menghapus file tersebut, waktu yang dibutuhkan hanya sekejap saja. Mengapa bisa demikian?
Hal ini tentu saja ada kaitannya dengan tugas sebuah System Operasi (OS). Suatu System Operasi (OS) adalah suatu program yang bertindak sebagai perantara antara seorang pemakai suatu komputer dengan perangkat keras komputer.
Bergantung pada alat simpan yang sedang digunakan, suatu komputer dapat menyimpan informasi dalam beberapa wujud secara fisik. Masing -masing alat yang digunakan mempunyai karakteristik sendiri dalam mengorganisasi file secara fisik, oleh karenanya informasi disertakan dalam melakukan sebuah penyimpanan.
Suatu file adalah suatu himpunan yang erat kaitannya dengan data. Sedangkan tugas dari OS adalah memetakan dan mengurutkan data ke dalam alat – alat simpan secara fisik. Bagian dari OS yang bertanggung jawab dalam hal ini adalah system file.
Sehingga tugas utama dari system file adalah untuk membebaskan para pemakai dari tugas prosedur penyimpanan yaitu informasi yang disertakan pada file di dalam alat – alat simpan secara fisik. Ketika alat simpan diubah, dari harddsik ke CD misalnya, pemakai masih melihat file / informasi yang sama tanpa ada perubahan nama file dan sebagainya.
Hal – hal yang paling mendasar, suatu system file terdiri dari dua bagian yang terpisah. Yaitu suatu koleksi file dan suatu struktur direktori. Struktur direktori mengorganisir dan menyediakan informasi tentang semua file di dalam sistem.
Setiap file mempunyai atribut – atribut tertentu seperti nama, lokasi (alamat direktor di dalam system file), ukuran, informasi kendali akses (apakah file itu dapat terbaca atau ditulis, atau hanya dapat dieksekusi dll), jenis (apakah itu hanya suatu koleksi data atau mempunyai perintah khusus lain), waktu, tanggal dan identifikasi pengguna.
Contoh : Jika file A adalah untuk dicopy menjadi B, maka suatu file yang baru diciptakan, berikutnya isi – isi dari A dibaca dan akhirnya ditulis menjadi B.
Dari contoh di atas, agar terjadi demikian, ada tiga urutan penting. Pertama-tama, ruang kosong tersedia yang harus ditemukan untuk B di dalam system file. Kedua, B harus dibuatkan sebuah direktori. Direktori ini untuk merekam nama dari B dan lokasi B di dalam system file. Ketiga, suatu permintaan dikirim kepada OS itu untuk membaca isi – isi dari A.
Selanjutnya OS menemukan informasi lokasi A dari direktori dan membaca isinya. Sekarang untuk menulis menjadi B, OS kembali mencari direktori untuk alamat dari B. Akhirnya isi dari A dibaca dan ditulis ke ruang kosong untuk melengkapi B.
Sebaliknya jika terjadi penghapusan file, proses tersebut sangat sederhana. Jika file A akan dihapus, OS hanya mencari direktori untuk file yang dihapus. Setelah menemukan ruang dan direktori yang ditempati oleh A, maka tinggal dihapus atau dibebaskan sehingga ruang itu dapat digunakan oleh file-file yang lain.
Seperti dapat dilihat, selama proses mengcopy suatu file lebih melibatkan banyak proses dibanding proses menghapus suatu file.
Bagaimana ada yang ingin menambahkan atau ingin mengkoreksi artikel ini? Silakan berbagi di sini.
Artikel yang berhubungan dengan atikel ini :
0 comments to the post